Tampilkan postingan dengan label Monetize. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monetize. Tampilkan semua postingan

13 Maret 2019

Blogger Jangan Hanya Bikin 'Rate Card'

"Halo, Kami dari Agency XYZ ingin mengajak kerja sama dengan blog Anda. Apakah Anda tertarik? Boleh informasikan rate cardnya?"

Jadi blogger kalau udah dapat e-mail kek gitu, suruh kirim rate card rasanya udah jadi pro blogger. Terus asal terima aja yang penting dapet duit, tanpa mikirin blog ke depannya. Yang lucu adalah, ketika diminta mengirim rate card, yang dikirim cuma info biayanya per post saja.

Padahal kalau kita mau mempelajari lebih dalam soal rate card, isinya itu luas. Rate card itu bukan hanya soal biaya harganya, tapi juga tentang apa dan bagaimana kerja sama akan dilakukan.

Rate Card Blogger


Saya kutip tulisan Ivan Mulyadi di Marketing.co.id yang berjudul "Apa itu Rate Card".

Sebuah rate card adalah suatu dokumen yang disediakan oleh koran atau publikasi cetak lain yang menampilkan tarif periklanan perusahaan. Rate card juga menampilkan detail mengenai deadline, demografi, kebijakan, serta biaya tambahan atau persyaratan desain grafis bila ada. Semakin kecil publikasi, semakin sedikit pula informasi yang tersedia di rate card tersebut.
Selain dari rujukan artikel itu, saya juga sudah mencari apa rate card yang sebenarnya. Jadi intinya rate card itu bukan sekadar jumlah atau nilai dari sebuah kerja sama saja. Tetapi di dalamnya mencakup mekanisme/aturan/prosedur/kebijakan atas sebuah kerja sama.

Kalau kita tarik ke sisi blogger, berarti blogger harus membuat dan memiliki sebuah rate card yang isinya selain nilai dari sebuah kerja sama juga harus ada prosedur tentang bagaimana kerja sama ini akan dilakukan termasuk masalah administrasi pembayaran.

Mungkin poin-poin penting yang perlu ada di rate card dari seorang blogger diantaranya sebagai berikut :

  • Bentuk Kerja Sama. Di sini blogger bisa menjabarkan bentuk kerja sama yang bisa dilakukan di blognya. Misalnya saja Sponsored Post, Article Placement, Banner Ads, Instagram Post, Review Product, dll.
  • Nilai/Biaya. Tentunya juga perlu menginformasikan berapa nilai atau biaya dari masing-masing bentuk kerja sama itu. Dengan memberikan beberapa pilihan bentuk kerja sama dan biaya seperti itu, ini juga bisa menarik minat Advertiser untuk menggunakan bentuk kerja sama lain.
  • Statistik. Meskipun kadang ada advertiser yang memang sudah menganalisa blog kita, tetapi memberikan informasi statistik ini sebagai bentuk pertanggung jawaban atas penawaran harga yang kita berikan. Jadi misalnya kamu punya blog dengan visitor ribuan, tapi cuma dihargai Rp 100ribuan per artikel, kamu bisa memberikan penjelasan melalui statistik ini. Statistik ini wajib di update rutin dan kamu bisa menggunakan Google Analytic sebagai acuannya.
  • Isi Konten. Ini akan menjelaskan bagaimana konten 'berbayar' ini dibuat. Yang perlu dijelaskan itu misalnya : Min/Max jumlah kata, jumlah backlink, penempatan nama Brand, waktu lama tayang, dll.
  • Prosedur Pembayaran. Nah ini juga wajib dibuat oleh blogger. Soalnya saya lihat sekarang ini blogger masih banyak yang hanya 'nurut' saja apa yang jadi permintaan advertiser. Kalau nggak nurut, takut nggak jadi dapet duit. Akhirnya kerja sama yang sebenarnya rate bisa lebih tinggi, cuma dibayar recehan. Belum lagi pembayaran yang harus menunggu berminggu-minggu. Hadeeh. Masalah pembayaran ini menurut saya, blogger wajib punya aturan. Kita itu blogger, yang punya media. Kalau media kita kenapa-kenapa, yang kena ya kita bukan advertiser. Misalnya saja blog kita kena hukuman dari Google karena banyak link keluar (backlink dari pengiklan), yang kena dampaknya siapa coba? Blogger kan? Nah masalah prosedur pembayaran ini wajib diperjelas dan advertiser memang harus menuruti aturan ini. Bukan kita yang malah tunduk sama advertiser.
  • Penalty. Ini masalah pelanggaran kalau advertiser tidak mematuhi aturan dari blogger. Kalau saya sendiri masalah Penalty ini masih sebatas soal pembayaran. Di kebijakan saya saat ini, pembayaran wajib dibayarkan setelah artikel tayang. Jika memang setelah tayang tidak bisa langsung, maksimal 7 hari setelah artikel tayang. Dan jika lebih dari 7 hari belum dilakukan pembayaran, maka artikel akan saya turunkan sementara sampai dilakukan pembayaran. Mungkin ini terlihat 'kejam', tapi ini adalah bentuk dari sikap profesional kita dalam menjalin kerja sama. Karena saya sendiri menjadikan blog memang bukan sebagai media yang remeh temeh. Lagi pula saya hidup dari blog, jadi aturan seperti itu bagi saya adalah hal wajar.
Mungkin itu beberapa poin yang perlu ada di rate card dari seorang blogger.

Dan pasti akan ada yang bertanya, "wah kalau dibuat seperti itu saya takut nggak dapet kerja sama lagi."

Kalau saya sih nggak takut ya. Justru dengan adanya aturan seperti itu, kita akan dapat advertiser yang benar-benar bagus. Artinya mereka mengerti kalau media blog di era sekarang ini itu ada nilainya. Dan harapannya saya jika semua blogger memiliki aturan-aturan seperti itu yang disesuaikan dengan keunikan blognya masing-masing, ini akan membuat keberadaan blogger itu lebih terangkat lagi.

Terutama masalah 'nilai rate' nya ya. Saya yakin kalau para blogger berani membuat seperti itu, rate per post akan bisa naik. Maaf, nih maaf, bukannya gimana-gimana, tapi menurut saya kalau hari gini masih ada rate per post senilai IDR 100K-200K, itu sangat tidak layak. Bodo amat dengan DA/PA, karena menurut saya nilai dari blog itu nggak bisa diukur dari DA/PA saja. DA/PA kecil tapi kalau artikel itu tayang selamanya, dibaca hingga ribuan kali, masa iya mau dibayar Rp 100ribuan?

Dan yang perlu temen-temen blogger tahu, kita ini dibutuhkan lho. Kita ini adalah pasar yang empuk di era sekarang ini. Dan ini adalah momen dimana kita harus bisa mengangkat kesejahteraan blogger dimulai dari kerja sama-kerja sama seperti ini.

Hehe, maap kalau malah jadi ngompor-ngomporin. Tapi emang bener kan?

Blogger


Tulisan ini kalau dibaca orang agency pasti pada bilang apa sih ini. Haha. Maap para agency, kami bukan media untuk tempat nyepam. :)

Tapi yakinlah masih banyak kok agency yang sangat terbuka dengan seperti ini dan mereka memahami aturan yang kita buat. Minggu kemarin saya pun dapat Sponsored Post, mekanisme pembayaran dari mereka sebenarnya dilakukan 3 minggu setelah invoice dari saya diterima. Tetapi karena saya punya rate card atau mekanisme pembayaran sendiri, akhirnya mereka menyetujui dengan aturan/mekanisme pembayaran dari saya.

Intinya masih banyak advertiser/agency yang mau diajak berdiskusi dan aware dengan aturan yang kita buat. So, jangan takut bikin rate card yang benar-benar rate card.

Terakhir, buat yang tanya cara bikin rate card gimana, maap saya nggak bisa jawab. Soalnya sudah banyak contoh-contoh rate card di internet. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan kita saja. Mari buat rate card jangan sekadar bikin rate card.

Dan yang paling terakhir, jangan 100% percaya omongan saya di atas, karena itu bisa saja salah, bisa saja benar. :) Happy Blogging!

Image material via Pixabay.com

25 April 2017

Rate Card Blogger, Apakah Sekedar Formalitas Belaka?

Disclaimer : Tulisan ini hanya berdasarkan opini dan apa yang penulis merasa ketahui. Segala informasi yang pembaca temui bisa saja benar bisa saja salah.

Rate Card Blogger

Saya cukup senang karena keberadaan blogger di muka bumi ini dihargai dan diapresiasi. Bentuknya pun macam-macam, ada yang mengadakan sebuah penghargaan ada pula yang mengajak blogger turut andil dalam berbagai kerjasama online maupun offline.

Uhh, kalau udah ngomongin soal 'kerjasama', rasanya menjadi blogger itu sesuatu yang wah. Iye kan...

Kerjasama online yang sekarang ini banyak didapatkan blogger itu kalau nggak sponsored post ya content placement. Bahkan saking demennya dapat kerjasama seperti ini, blogger pun asal ambil tawaran yang masuk ke email-nya. Nggak peduli berapa rate yang diberikan, pokoknya ambil. :))

Wangunkah?

Ya kalau ditanya pantas atau tidak pantas, itu kembali ke masing-masing blogger. Sebenarnya kurang etis kalau ngomongin masalah rate. Soalnya ini sudah masuk ke hak prerogatif blogger. Tapi tak ada salahnya kan ngomongin rate? Apalagi juga pernah ada kasus kalau blogger nggak nerima-nerima pencairan dananya. Padahal jauh-jauh hari sudah kredit panci. Kan susah kalau kayak gitu. hehehe

Apa itu Rate Card ?

Saya rasa sudah banyak blogger papan atas yang ngulik soal rate card ini. Karena dulu saya tau rate card itu juga baca dari sebuah blog (blogger luar negeri). Waktu itu saya pernah ditanya oleh calon klien, dia minta rate card blog saya.

Lhah, saya bingung, apa itu rate card. Tak kira rate card itu semacam kartu anggota menjadi blogger yang disitu ada informasi si blogger masuk dalam kategori apa. wkwwkwk

Tapi setelah browsing, akhirnya tahu juga rate card itu apa. Dari situ saya mulai paham kalau tiap blogger itu punya 'harga' nya sendiri-sendiri.

Nah, sering ada pengalaman dan beberapa kali ditanya seorang temen, dia blogger, dan tanya berapa harga yang pas untuk sebuah sponsored post / article placement di blognya. Soalnya dia baru saja dihubungi oleh pihak agency/brand yang ingin kerjasama seperti itu di blognya.

Lha saya juga bingung mau ngasih tau harga yang cocook untuk dia. Soalnya nggak mungkin saya kasih informasi harga yang biasa untuk blog saya ke blog dia. Rate saya kan mahal. #eh hahaha becanda kok :p

Maksudnya gini, saya nggak mungkin kasih harga sponsored post yang biasa saya dapatkan lalu saya infokan ke dia, karena karakteristik blog saya dan dia itu beda. Tiap blogger itu punya blog dengan karakteristik dan statistik yang berbeda-beda. Itulah salah satu alasan mengapa rate tiap blogger tidak bisa sama.

Apalagi kerjasama seperti ini adalah sebuah jasa. Dimana harga pekerjaan bidang jasa itu tidak ada patokan pastinya (harga pasaran). Jadi jangan tanya juga berapa patokan harga sponsored post ke blogger lain. Misalnya saja harga sebuah jasa foto, mbok sampeyan tanya ke fotografer (pro) sejagad ini, mereka nggak bisa kasih tau langsung segini harga sebuah foto itu. Nggak bisa. Ya soalnya ada banyak sekali kriteria-kriterianya sebelum bisa menentukan harga.

Untuk itu kita sebagai blogger juga butuh rate card.

Menurut saya, Rate card ini adalah informasi tentang detail blog kita yang didalamnya ada informasi deskripsi blog kita, statistik pengunjung hingga media sosial yang dipunya dan tentunya harga patokan bagi kita (masing-masing blogger) untuk acuan ketika mendapatkan tawaran kerjasama seperti itu. Tetapi yang perlu diingat,harga rate card ini bukanlah harga pasti. Rate card ini harga standar untuk kita. Dan biasanya sih jarang disebutkan di dokumen rate card. Harga ini biasanya cuma ada dibenak kita dan nanti digunakan untuk keperluan negosiasi.

Misalnya saja travel blogger a punya rate card sebesar Rp 800.000,- untuk satu artikel bersponsor. Harga ini bisa saja lebih tinggi, namun agak sulit untuk turun. Ya soalnya harga itu adalah harga standart untuk sebuah sponsored post.

Akan bisa naik harganya apabila ternyata klien adalah dari perusahaan yang besar dan sudah terkenal. Bisa juga jika pihak blogger memberikan services yang lain. Misalnya akan mengiklankan sponsored post ke media sosial agar dapat mendrive traffic lebih banyak lagi.

Bagaimana menentukan rate card untuk blogger ?

Menentukan Rate Card Blogger
Saya sendiri juga belum tahu bagaimana menentukan rate card yang sesuai untuk blog kita. Karena ya belum ada rumus pastinya. Eh tapi saya pernah baca artikelnya Mas Harris Maul kalau dia punya rumus menentukan rate card untuk sebuah sponsored post. Coba kamu nanti search di Google "harrismaul rate card".

Tetapi saya punya pandangan tersendiri tentang bagaimana menentukan rate card bagi blogger ini.

Menurut saya ada beberapa kriterianya sebelum kita bisa menentukan nilai atau harga yang pas untuk kita.

Visitors & Pageviews

Kriteria pertama bisa dilihat dari demografi visitors dan pageviews blog kita. Cakupannya mulai jumlahnya, lalu umurnya, jenis kelamin, minat, dll. Untuk itu sangat perlu kita untuk memasang sebuah analytic tool yang lengkap seperti misalnya Google Analytics.

Bacalah : Wow, Inikah Pengaruh Besar Google Analytics Bagi Blog Kita? (nggak bisa diklik? lha saya belum buat tulisannya.)

Dari situ kita bisa membuat report mengenai blog kita. Jadi fungsi dari memasang Google Analytics itu bukan sekedar untuk melihat berapa banyak kunjungan blog kita per harinya. Tetapi juga untuk mengetahui bagaimana blog kita dimata pengunjung dan untuk menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk perbaikan blog kita agar lebih ramah pengunjung lagi.

Jadi jumlah pengunjung dan tayangan laman ini sangat berpengaruh untuk menentukan nilai rate card blog kita.

Blogger dengan jumlah pembaca per hari 5.000 akan memiliki rate card lebih tinggi dibanding blogger dengan jumlah pembaca per hari hanya 1.000.

Influencer

Tetapi, jumlah pengunjung itu tidak bisa menjadi jaminan utama untuk mendapatkan rate yang lebih tinggi. Faktanya memang begitu. Ada banyak blogger yang pengunjungnya sedikit dari saya, tetapi dapat rate yang menggila.

Apa penyebabnya?

Karena dia lebih terkenal dibanding saya. Ya, itu dia masalahnya. Saya yang notabene hanya remahan rengginan yang terbuang menjadi blogger tidak bisa mengangkat rate yang lebih tinggi.

Blogger yang terkenal entah di dunia media sosial atau bahkan offline. Jelas akan lebih mudah menaikkan rate. Karena dia terkenal dan apa yang ia katakan, ucapkan, tuliskan, ghibahkan itu dapat mempengaruhi audience dan followers nya.

Sekarang bayangkan saja, rate card antara saya dan Agus Mulyadi kira-kira besaran mana? Nggak usah pakai mikir panjang sudah jelaskan. Dia update status satu kata saja yang komen ribuan umat. Lha saya, nulis puisi kadang kata-kata mutiara, yang komen cuma satu tok til. Kalau pun ada yang komen pasti ya cuma itu-itu saja orangnya. Itupun karena dia orangnya lagi selow.

Itulah salah satu contohnya dimana kriteria "influencer" itu sangat menentukan rate card.

Kalau ngomongin masalah influencer ini tentu ada kaitannya dengan personal branding.

Baca juga : Personal Branding Mampu Meningkat Earning (nggak bisa diklik lagi? Maap saya belum bikin tulisannya.)

Technical

Lalu kriteria lain datang juga sisi teknis. Menurut saya, ini jarang banget dilihat bagi para blogger yang ingin menentukan rate untuk sponsored post. Sisi teknis ini meliputi desain blog, kondisi SEO blog, penempatan tulisan (sticky atau tidak), bebas dari iklan (adsense, iklan lain), waktu, riset tulisan, prestasi yang pernah didapatkan blogger, dll.

Saya pernah punya pengalaman dimana artikel bersponsor yang saya tulis itu sampai sekarang nangkring di page one Google. Padahal saya tidak serius mengoptimasinya. Gilee, pasti ada yang ghibah, "Nggak serius aja bisa nangkring, gimana kalau serius?"

Pertimbangan itulah yang menyadarkan saya untuk lebih giat lagi menegokan harga sebuah sponsored post yang notabene artikel itu akan tayang selamanya dan di sana ada link ke website klien. Jadi untuk kerjasama dalam durasi seumur hidup ini apakah rate cuma dihargai sebesar kacang godhog yang dijual di wayangan? Kan tidak.

Apalagi kalau memang kita niat untuk mengoptimalkan sponsored post itu, beuh rate bisa digodhog lebih matang lagi sematang kacang godhog di wayangan.

Blogger Rate Card
sample sponsored post rate guide / source : cocochicblog.co.uk


Rate Card
Sekedar Formalitas?

Menarik memang, ketika kita sebagai blogger memiliki sebuah rate card yang ciamik entah itu mau dibuat dalam format pdf ataupun sebuah halaman di blog. Tetapi yang menjadi masalah hingga saat ini adalah semua itu seperti formalitas saja.

Apa yang telah kita tulis dan informasikan di rate card nampaknya tidak ada gunanya ketika pihak brand apalagi agency tidak menjadi acuan serius pihak mereka pemberi dana untuk menggelontorkan dananya sesuai harapan kita.

Dan pada akhirnya pilihannya ada dua, membatalkan atau mengambil rate yang sudah ditawarkan pihak mereka.

Lalu apa kontribusinya rate card yang telah kita buat?

Itulah yang perlu menjadi bahan edukasi untuk kita semua, baik blogger, agency hingga brand.

Saya tidak bermaksud untuk membandingkan klien dalam negeri dengan luar, tetapi berdasarkan pengalaman, klien dari luar negeri lebih menghargai blogger. Pernah ada kejadian unik, waktu itu saja dihubungi oleh sebuah agency dari dalam negeri. Mereka menawarkan kerjasama sponsored post untuk sebuah produk dari perusahaan luar.

Ketika saya menawarkan dengan rate yang sesuai dengan keinginan saya, ternyata tidak disetujui. Mereka menganggap masih terlalu tinggi. Akhirnya saya putuskan untuk menolak. Ya memang produk yang ingin dipromosikan adalah brand besar. Tak berselang lama, saya dihubungi agency juga tetapi dari luar negeri. Menariknya, mereka juga menawarkan untuk produk yang sama dengan agency yang saya batalkan itu.

Dan ketika saya meminta rate yang sama seperti saat saya tawarkan ke agency pertama, ternyata mereka langsung menyetujuinya. Masalah administrasi pun sangat mudah. Ketika artikel tayang, masalah administrasi langsung dipenuhi tanpa menunggu beberapa minggu lagi.

Menarik kan. Itulah yang sekarang banyak ditemui.

Jadi, menurut saya keberadaan rate card di dunia perbloggingan dalam negeri ini belum sepenuhnya bisa diterapkan. Masih banyak pihak yang belum memahami apa itu rate card. Lagi pula adanya sistem 'asal terima yang penting rekening berkembang' itu juga yang menjadi pengaruhnya.

Ini bukan masalah menolak rejeki atau yang lainnya. Tetapi jika sudah berbicara masalah kerjasama bisnis, ya untung rugi harus diperhatikan lagi. Karena kita (blogger) sekarang bukan sekedar menjadi orang yang hobi nulis di blog lagi, tetapi kita juga sudah menjadi medium bagi perusahaan untuk mendekatkan diri lagi ke target pasarnya.

***
Sekian. Tulisan di atas hanyalah sebuah opini pribadi, jangan dipercayai apalagi diambil hati.

28 Desember 2016

Pantaskah Personal Blogger Menerima Content Placement?

Sebenarnya siang tadi mau ke Jogja, tapi karena hujan akhirnya dipending dulu saja. Karena ada jeda waktu lumayan banyak, akhirnya saya putuskan untuk membuat tulisan ini, semoga layak.

Kalimat pembuka di atas memang tidak penting buat kalian, jadi abaikan saja...

Tapi tulisan saya kali ini tolong jangan diabaikan, karena ini termasuk salah satu keresahan hati saya tentang dunia blog sekarang ini. Jadi mohon maaf sebelumnya jika nantinya ada yang merasa tersakiti meskipun saya pribadi tidak bermaksud untuk menyakiti.

Sekarang ini banyak "Personal Blogger" yang menerima Content Placement baik dari brand atau digital agency. Saya sendiri pun juga pernah menerima kerjasama content placement seperti ini. Taukan content placement itu?

Jika belum, sila baca artikel saya yang ini dulu : Job Review sama Content Placement, Kembar Tapi Beda

Personal Blogger
image via pixabay.com
Yang jadi pertanyaan dan pembahasan sekarang adalah "Pantaskah Personal Blogger Menerima Content Placement?"

Jawabannya ada dua, Pantas dan Tidak.

Tetapi menurut saya, seorang Personal Blogger itu lebih baik ..... *tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt.....*

Sebelum tahu pendapatan saya soal itu, lebih baik saya paparkan dulu apa itu Personal Blogger.

Menurut saya, ini menurut saya lho ya, Personal Blogger itu adalah blogger yang memiliki tugas, eh jangan tugas lah, ehm,..apa ya....anu aja, memiliki kebiasaan menulis di blog pribadinya dengan gaya penulisan yang sesuai karakteristiknya. Personal Blogger biasanya juga menggunakan namanya sebagai brand atau domain blog nya.

Yang membedakan Personal Blogger dengan divisi blogger lainnya adalah dari segi penulisan. Gaya tulisan, pemikirannya yang dituangkan dalam tulisan, pengalamannya yang dituangkan dalam tulisan, dan lainnya itu semualah yang menjadi nilai jual dari seorang Personal Blogger.

Akan sangat lucu, jika personal blogger mempublikasikan artikel baru tapi itu hasil saduran atau rewrite dari media lain tanpa disisipi opini atau tanggapan pribadinya. Sehingga Personal Blog malah berubah menjadi seperti media online mainstream. Karena sisi 'personal' tidak dimunculkan dalam artikelnya.

Itu Personal Blogger menurut saya...

Jadi dari sedikit paparan saya di atas mungkin sudah bisa menjawab Pantas atau Tidak nya Personal Blogger menerima tawaran content placement. Untuk itu silahkan disimpulkan sendiri sesuai sudut pandang masing-masing. :)

Solusinya bagaimana kakak...

Saya yakin tidak semua Personal Blogger itu idealis. Ada yang punya stigma bahwa blog pribadi saya hanya mau menerima tawaran yang berupa sponsored post saja, agar blogger bisa menulisnya sendiri dengan gaya penulisannya. Ada juga yang pokoknya asal angkut ketika dapat tawaran content placement dari klien, namanya juga rejeki. Ya, itu semua tidak salah.

Tetapi kalau memang ingin menerima content placement solusinya gimana?

Kalau menurut saya, ada beberapa opsi yang bisa dilakukan.

1. Menulis ulang
Supaya nilai personalnya tetap muncul, ya terpaksa harus ditulis ulang content placement yang sudah dikirimkan. Namun, harus dikomunikasikan dengan klien terlebih dahulu. Jelaskan alasannya jika ingin menulis ulang.

Negosiasi
image via pixabay.com
Akan tetapi, menurut saya ini merugikan blogger itu sendiri. Karena biasanya content placement di Indonesia itu dihargai dengan rate yang terbilang masih rendah. Maklum, penilaian rate umumnya berdasarkan nilai DA/PA. Jadi mau setenar apapun personal blogger, tidak mampu mendongkrak rate. Biasanya gitu... :p

Kalau mau ditulis ulang, secara otomatis 'ongkos nulis' si blogger tidak dibayar. Kasarannya seperti itu...

Tetapi jika si blogger lilo legowo ya monggo......

2. Menawarkan Sponsored Post
Solusi kedua menurut saya adalah dengan nego ke pihak klien untuk meminta kerjasama dalam bentuk Sponsored Post. Nantinya blogger cukup diberikan informasi rules artikel berbayarnya dan blogger bisa menulisnya sesuai gaya penulisan sendiri.

Sponsored Post
image via marketingland.com
Secara otomatis dengan menawarkan Sponsored Post maka rate juga akan naik.

Misal jika diawal ada klien menawarkan content placement (artikel tinggal publis) dengan rate Rp 300.000,- lalu blogger menawarkan dalam bentuk Sponsored Post maka rate bisa dinaikkan jadi Rp 500.000,-. Ini contoh saja. Sehingga 'ongkos nulis' juga dibayar.

Dua solusi itu bisa dicoba jika nantinya mendapatkan tawaran content placement. Sehingga dari kerjasama tersebut, personal blogger tetap bisa menjaga kualitas konten artikel yang tayang di blognya dan tetap bisa mengebulkan dapurnya.

3. Mempublikasikan di blog lain
Solusi terakhir dengan mempublikasikan content placement di blog lain. Jadi ya harus punya blog lain. Nah, biasanya kalau saya itu untuk content placement tak arahkan ke www.virmansyah.info, blog itu aku tujukan untuk hal-hal seperti itu :D Kalau di virmansyah.net ini khusus untuk personal blog.

Seperti itu...

Karena menurut saya sudah tidak ada yang perlu dibahas, akhir kata saya akhiri tulisan sampai di sini saja.

Sekali lagi ini adalah opini saya pribadi yang bersumber dari keresahan hati. Kalau ada pihak yang merasa tersinggung, yakinlah saya tidak berniat menyinggung Anda. Saya menulis ini supaya hati saya plong, tidak dongkol. Kalau dongkol nanti malah jadi penyakit hati, nggak baik buat kesehatan. Kalian mau saya sakit? Nggak kan....

Jadi kesimpulannya silahkan disimpulkan sendiri-sendiri. Saya tidak menyuruh untuk menghentikan kalau dapat tawaran content placement karena itu menyangkut rejeki masing-masing. Saya pun bukan yang menentukan rejeki orang.

Itu saja, sekali lagi mohon maaf dan semoga tulisan ini memberikan khasanah dalam dunia perbloggingan. :D


Nuwun,
Setia Adi Firmansyah

19 Mei 2016

6 Hal Sebelum Blogger Menerima Tawaran Content Placement

Content placement di kalangan blogger semakin kesini semakin kekinian. Maksudnya semakin banyak saja pihak-pihak yang ingin memberikan tawaran "Content Placement" kepada blogger.

Ini artinya keberadaan blogger sudah diakui oleh beberapa kalangan, brand dan pengiklan. Dan secara tidak langsung juga dapat meningkatkan taraf hidup blogger dari segi ekonomi. :D

Tapi...tapi...sekarang ini masih banyak tawaran content placement yang memberikan rate bisa saya katakan rendah. Mengapa? Karena saya pernah bahas di sini. Baca aja nanti.

Itu menurut saya lho ya, kalau menurut kalian sudah besar ya monggo. :) #jangansensi

Yang menjadi masalah sebenarnya bukan itu.

Karena faktanya, banyak yang sekedar menerima tawaran content placement hanya karena iming-iming uang. Padahal sebaiknya sebelum menerima tawaran content placement, blogger harus memperhatikan beberapa hal berikut ini :

Content Placement

#1 Kesesuaian Tema

Konsisten pada tema blog yang telah kita bangun adalah salah satu cara membentuk karakter blog. Kadang, tawaran content placement tidak sesuai dengan tema blog kita, sehingga secara tidak langsung ini merusak citra blog yang telah dikelola. Ya tidak semuanya sih, tapi ada beberapa pihak yang menawari content placement yang tidak sesuai dengan tema blog kita.

Saya sendiri pernah, blog saya tentang bisnis tapi ditawari content placement dengan tema diluar itu. Sebenarnya ratenya lumayan (diatas rata-rata rate content placement yang ada) tapi apakah saya harus memaksakan menerima itu hanya karena rate tinggi?

Mengapa hal seperti itu terjadi? Ya karena sebenarnya pihak yang memberikan content placement hanya ingin mendapatkan backlink dari blog kita. Rata-rata backlink, tapi ada juga yang sekedar titip nama "brand". Nah kalau sudah titip nama brand justru rate lebih tinggi.

Jadi yang pertama pastikan tema dari content placement sesuai dengan tema blog kita. Kalau tidak sesuai, jangan memaksakan. Ini bukan soal menolak rejeki, tapi bagaimana kita konsisten dengan apa yang telah kita bangun.

#2 Mengecek Backlink

Umumnya, content placement memberikan backlink ke sebuah website brand atau landing page produk tertentu. Pastikan untuk mengecek terlebih dahulu backlink tersebut apakah telah sesuai dan trust domain. Jangan sampai mendapatkan content placement yang didalamnya ada backlink ke situs-situs dewasa, judi, dan sejenisnya. Bisa saja lho ini.

Karena artikel tersebut nanti nongol di blog kita, alangkah baiknya selalu cross check backlink yang melekat di content placement.

Selain itu, seperti yang pernah saya publish di artikel ini. Bahwa sebaiknya yang berhubungan dengan content placement dan job review, backlink diberi tag rel=nofollow. Sebaiknya gitu sih, tapi ya namanya juga content placement untuk mencari backlink, kadang dari pihak pemberi content placement tidak mengijinkan untuk diberi tag nofollow.

Dan pastikan hanya ada satu backlink saja. Kalau menurut saya nih, jika dalam satu content placement ada dua backlink apalagi dua link ke situs berbeda, maka rate akan bertambah pula. Ini kalau menurut saya sob.


#3 Baca Ulang Artikelnya

Meskipun artikel telah dibuatkan oleh pihak sana, dan blogger tinggal mempublisnya, jangan seenaknya untuk langsung mempublis. Baca ulang dulu keseluruhan artikel apakah ada yang salah atau tidak sesuai dengan blog kita. Sekali lagi artikel tersebut nantinya akan tayang di blog kita, dan jika itu artikel buruk maka yang kena dampaknya adalah kita, blogger. Nah, resiko inilah sebenarnya yang seharusnya menjadi salah satu faktor penentu rate content placement. Bukan sekedar dinilai dari berapa DA, PA, Pagerank, Alexa Rank dan sejenisnya. Di lain sisi, nama kita juga harus ada harganya.

Dan yang lebih penting adalah, content placement bukanlah review produk/brand. Jangan sampai content placement memberikan informasi tentang sebuah produk secara mendetail. Konsep artikel pada content placement sebaiknya secara general dan sesuai dengan tema blog kita.

#4 Cek Duplikasi

Artikel dari content placement biasanya telah dibuat oleh Tim Content Manager dari sebuah agency atau pihak brand itu sendiri. Tapi tak ada salahnya jika blogger tetap mengecek duplikasi dari artikel tersebut. Namanya juga manusia, bisa saja pas buat artikel tersebut hanya sebatas rewriter sana sini dan itu masih meninggalkan copy paste dari sumber lain. Sebaiknya ini artikel dari content placement dicek terlebih dahulu.

Bagaimana caranya? Cara paling mudah adalah copy beberapa kalimat lalu search di Google. Kalau ada yang sama, ya sebaiknya minta ganti artikel. Tapi kalau pengen mudah ya pakai tools semacam Copyscape dan sejenisnya.

#5 Siapa Dia

Bersyukur kalau yang menghubungi kita adalah dari pihak brand atau agency langsung, tapi kalau personal, silahkan di cross check dulu siapa dia. Kalau sudah kenal sih nggak masalah, tapi kalau tiba-tiba ada email masuk dari orang tak dikenal yang menawari content placement sebaiknya dicari tahu dulu siapa dia.

Bukan masalah curiga atau gimana, tapi ini hanya masalah keterbukaan saja agar jika nanti ada kendala atau masalah bisa menghubungi pihak yang berkaitan dengannya. Apalagi kalau sudah yang berhubungan dengan administrasi.

#6 Soal Pembayaran

Yang paling penting dari semuanya adalah pembayaran. :D Dengan mengetahui siapa dia, otomatis masalah pembayaran tak perlu was-was. Kan nggak asik kalau sudah dipublis tiba-tiba orang yang ngasih menghilang begitu saja.

Masalah pembayaran sebaiknya dikomunikasi sejak awal. Bagaimana mekanismenya dan waktu pembayarannya. Ya, sebaiknya untuk content placement pembayaran tidak terlalu lama. Maksimal minggu depannya. Soalnya rate yang diberikan juga tidak terlalu besar.

***
Ini hanya sekedar sharing pengalaman kalau nanti kita mendapatkan tawaran content placement. Masalah rate besar atau kecil itu terserah blogger masing-masing. Yang mau dibayar rendah, ya monggo, yang pengennya dibayar tinggi ya nggak usah mengejek yang dapat bayaran rendah. Semua itu kembali lagi pada kondisi "Suka Sama Suka".

Sekali lagi ini hanyalah opini saya pribadi, jika tidak sesuai ya tolong dikoreksi, kalau sesuai yang alhamdulillah. Matur suwun.

23 Maret 2016

Menjadi Fulltime Blogger di Indonesia, Bisakah?

Saya melihat semakin ke sini seseorang semakin pandai dalam memilih pekerjaan. Jika dulu memilih profesi pekerjaan hanya mendapatkan uang yang menjadi tolok ukurnya, sekarang sudah sedikit terbuka, yakni melakukan pekerjaan berdasarkan passion atau kesukaan.

Tapi passion saja tidak cukup, sekarang seseorang juga peluang yang akan didapatkannya dari passion yang dimilikinya.

Dan saat ini yang menarik adalah sudah banyak bermunculkan orang-orang yang 'mengaku' berprofesi menjadi blogger. Iya, Fulltime Blogger.

Fulltime Blogger
image via http://www.prowpblogger.com/
Saya sendiri sebenarnya kurang begitu yakin kalau Blogger bisa dikatakan sebagai Profesi.

Tapi saya mencoba untuk mencari tahu terlebih dahulu makna dari profesi itu sendiri. Tidak perlu jauh-jauh, saya browsing di Wikipedia, dan mendapatkan inti dari makna profesi itu.
"Profesi juga sebagai pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut" - https://id.wikipedia.org/wiki/Profesi

Sedangkan orang yang kompeten di profesi tersebut baru dinamakan Profesional.

Kembali ke Fulltime Blogger...

Pada awalnya Blogger hanyalah sebutan kepada orang yang memiliki dan aktif mengelola blognya. Tapi dengan adanya tambahan "Fulltime" ini makna Blogger seakan menjadi sebuah profesi yang dilakukan seseorang sebagai pekerjaan utamanya.

Iya, makna Fulltime Blogger sekarang memang digunakan untuk menyebutkan profesi seseorang yang mendedikasikan dirinya menjadi blogger. Bekerja sebagai blogger dan mendapatkan penghasilan dari blogger.

Terlihat aneh tentunya untuk sebagian orang, dan keanehan itu tak lepas dari alasan bagaimana ia mendapatkan penghasilan. Karena mindset seseorang sebagaian besar masih 'bekerja untuk uang'.

Tapi masalahnya bukan itu, jika di luar negeri sana sudah banyak blogger yang sukses menjadi Fulltime Blogger, di Indonesia bagaimana? Apakah bisa menjadi Fulltime Blogger?

Jawabannya adalah BISA.

Namun untuk mewujudkan itu semua tidaklah mudah.

Menjadi Fulltime Blogger tidak hanya bisa diukur dari seberapa banyak artikel yang ditulis di blognya. Tapi harus punya poin-poin agar blogger tersebut benar-benar bisa hidup (mendapatkan penghasilan) dari blognya.

Menentukan Sumber Penghasilan

Untuk menjadi Fulltime Blogger haruslah menentukan sumber penghasilan. Perlu diketahui sumber penghasilan dari blog itu sangat beragam, seperti melalui program periklanan CPC (Cost Per Click) Google AdSense dkk, CPA (Cost Per Action) - Afiliasi, Sponsored Post, dan lainnya.

Menentukan Sumber Penghasilan ini sangat penting, karena ini juga yang akan menentukan konsep blog dan konten blog. Selain itu, menentukan sumber penghasilan juga perlu diperhatikan yang memiliki peluang besar dan bisa rutin.

Monetize
image via peepso.com
Saya pernah membaca sebuah artikel blog, bahwa blogger tersebut menyebutkan telah menjadi Fulltime Blogger dengan sumber penghasilan dari Blog Contest. Ini tidak salah, tapi coba bayangkan saja dari Blog Contest, apakah itu bisa digunakan sebagai pendapatan tetap seorang Fulltime Blogger?

Saya tidak menyepelekan masalah rejeki, tapi semua juga sudah tahu kalau dengan menjadikan hadiah Blog Contest sebagai sumber pendapatan utama tidak akan bisa. Untuk itu perlu memikirkan sumber pendapatan yang bisa rutin dan bisa kita manage sendiri. Misalnya melalui AdSense, Afiliasi/CPA. Sponsored Post/Give Away/Blog Contest sebaiknya digunakan untuk penghasilan sampingan saja.

Karena kita di Indonesia juga perlu melihat peluang-peluang dari program periklanan yang ada. Di Indonesia sendiri terkenal dengan nilai CPC Google AdSense yang kecil dibanding negara lain, tentu ini menjadi PR tersendiri untuk Fulltime Blogger dalam membangun strategi.

Investasi Blog

Akan lebih baik jika Fulltime Blogger memiliki lebih dari satu blog. Cara memiliki lebih dari satu blog tapi tetap bisa mengelolanya adalah dengan membuat blog dengan tema (niche) berbeda-beda. Dengan memiliki blog dengan tema-tema khusus (1 blog 1 tema) maka akan mudah mengelolanya.

Investasi blog ini juga penting untuk meningkatkan jumlah pendapatan, di lain sisi juga bisa sebagai cadangan. Ini adalah sebuah strategi. Sebenarnya bisa saja memiliki satu blog, tapi perlu dikelola dengan baik, dari sisi konten, branding sampai teknologi yang digunakannya.

Untuk masalah ini bisa disesuaikan dengan situasi kondisi dan keahlian masing-masing blogger.

Optimalisasi Blog

Blog-blog yang dimiliki tentu harus dioptimalkan baik dari sisi konten, desain, branding, SEO, dan lainnya. Ini untuk menjaga agar blog yang dimiliki bisa tetap survive dalam persaingan dunia blogging.

Dengan mengoptimalkan blog juga berguna untuk mengembangkan blog dan menarik audience lebih banyak lagi. Audience atau pembaca sangat penting, karena penghasilan dari blog salah satunya dari mereka. Optimalisasi blog ini juga sebagai bentuk tanggung jawab blogger kepada audience. Misalnya saja optimalisasi SEO, blogger ingin mendekatkan kontennya kepada audience melalui SERP.

Konsistensi

Seberapa bagus blognya, sumber penghasilannya dan optimalisasinya tapi jika tidak diimbangi dengan konsistensi maka semuanya akan selesai. Konsistensi sangat penting, konsistensi bukan soal teknis membangun blog, tapi membangun diri blogger itu sendiri. Konsistensi adalah bentuk tanggung jawab atas niat yang telah dicamkan sejak awal menjadi Fulltime Blogger.

Konsistensi ini tidak nyata, tapi dampaknya luar biasa.

Apalagi di Indonesia, yang notebene menjadi Fulltime Blogger masih banyak godaan dan tekanannya, apalagi jika blogger berada di lingkungan yang kurang memahami dunia online. Tanpa konsistensi tentu tak akan bertahan lama.

***
Menjadi fulltime blogger di Indonesia perlu adanya pendekatan dengan audience. Mengingat audience di Indonesia belum semuanya paham akan dunia advertising online. Banyak masih yang merasa risih dengan adanya banner-banner iklan di blog.

Menjadi fulltime blogger jangan fokus pada hasil yang didapatkan. Iya benar menentukan sumber pendapatan itu penting, tapi jika fokus pada hasil nanti akan cepat mengeluh. Apalagi jika kurang konsisten, hasil berkurang dikit buru-buru mencari profesi lain.

Intinya jika ingin menjadi fulltime blogger di Indonesia haruslah fokus dan konsisten. Yakin saja ke depannya 'profesi' ini akan semakin baik seiring dengan meningkatnya persaingan dunia bisnis online dan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap dunia online & advertising yang lebih berkembang.

25 Februari 2016

Mengapa Rate Article Placement Lebih Murah Dibanding Sponsored Post?

Pernahkah teman-teman mendapatkan tawaran kerjasama dengan pihak advertiser baik itu langsung dari brand atau melalui agency? Pasti pernah kan ya.

Nah biasanya tawaran kerjasama itu kalau nggak Article Placement ya Sponsored Post. Kalau belum tahu beda antar keduanya lebih baik baca artikel aku sebelumnya, Job Review sama Content Placement, Kembar Tapi Beda.

Aku pun juga sering mendapatkan tawaran itu. Tapi akhir-akhir ini sering mendapatkan tawaran yang Article Placement. Dimana pihak advertiser (brand/agency) telah menyiapkan artikelnya dan aku hanya diminta untuk mempublikasikannya di blog aku. Jika ingin di edit ya monggo, tapi itu tidak mempengaruhi rate.

Rate Sponsored Post

Bicara soal rate atau biaya publikasi, kalau teman-teman mengamati pasti akan memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Sponsored Post biasanya rate bisa mencapai Rp 1 Juta per post, sedangkan Article Placement hanya Rp 100 Ribuan, bahkan ada rekan blogger yang pernah mendapatkan di bawah Rp 100 Ribu.

Apakah itu salah? Tidak, itu tidak salah, jika kedua belah pihak sudah suka sama suka.

Tapi, bagi saya itu tidak adil. Why? Tak perlu aku jelaskan. hehehe.

Yang menjadi masalah saat ini adalah mengapa rate antara keduanya ini kok berbeda?

Menurut aku pribadi ada beberapa alasan yang menyebabkan rate antara keduanya berbeda.

#1 Keberadaan Artikel

Sponsored post memiliki rate yang tinggi karena kita (blogger) yang menulis artikel itu sendiri. Kita hanya diberi brief tentang artikel akan dibuat nanti. Sedangkan untuk Article Placement kita tak perlu memikirkan artikelnya karena sudah disediakan oleh pihak advertiser.

#2 Isi Artikel

Perbedaan yang mencolok juga terdapat pada isi artikelnya. Sponsored Post umumnya artikel berupa promosi atau review sebuah produk yang disajikan secara soft selling maupun hard selling. Misalnya saja ada salah satu produk smartphone yang baru rilis, lalu blogger diminta untuk membuat review tentang smartphone itu. Dan di artikel tentunya disisipi link dengan landing page ke website klien.

Sedangkan Article Placement, lebih ke titip backlink. Dari isi artikel mungkin temanya bebas. Namun di dalamnya disisipi backlink dengan text anchor kata kunci yang telah ditentukan. Misalnya saja article placement ingin titip backlink ke website perusahaan sepatu dengan kata kunci "jual sepatu murah", nanti isi artikel lebih umum seperti Tips Membeli Sepatu Murah Secara Online. Namun, isinya umum ya, tidak ada nama brand sama sekali. Cuma ya itu tadi, ada backlink dengan kata kunci yang ditentukan.

#3 Tujuannya

Sponsored post sudah jelas untuk mempromosikan sebuah brand. Dengan demikian tak heran jika di dalam artikel nanti akan disebutkan nama brand tersebut. Menyebutkan brand ini membuat rate lebih mahal. Apalagi buat blog yang memiliki kredibilitas yang tinggi.

Sedangkan Article Placement mayoritas hanya untuk keperluan backlink atau optimasi SEO. Tak heran jika yang mengontak adalah dari pihak agency, mayoritas gitu.

#4 Budget Klien

Untuk sponsored post karena memang ingin beriklan secara terbuka, maka budget iklan tinggi. Blogger pun kalau memiliki blog yang bagus, rate bisa sampai jutaan per artikel. Tapi untuk article placement karena hanya untuk kebutuhan backlink SEO dan memerlukan banyak blog, maka budget dibagi-bagi.

Menurut aku itu faktor-faktor yang menyebabkan dua bentuk kerjasama blog ini memiliki rate yang berbeda.

Nah, saran aku jika nanti teman-teman blogger mendapatkan kerjasama seperti itu khususnya Article Placement yang mana di dalam artikel menyebutkan nama brand, dan mengarahkan audience ke brand tersebut, jangan sungkan untuk menawar rate article placement.

Sekarang ini era digital, keberadaan blogger sangat diperhitungkan, sehingga tak perlu sungkan untuk menawar, terlebih jika blog teman-teman memiliki kredibilitas yang bagus.

Aku rasa ini saja yang bisa aku share. Informasi ini belum tentu benar dan bisa juga benar. Karena ini hanya bersumber dari opini aku. Kalau tidak setuju dengan opini ku, silahkan komentar di bawah. :) Salam blogging.

03 November 2015

Job Review sama Content Placement, Kembar Tapi Beda

Biasanya buat blogger-blogger yang udah kece sering mendapatkan kerjasama dari sebuah brand secara langsung atau mungkin melalui digital agency.

Kerjasama yang dilakukan kebanyakan memang dalam bentuk artikel. Karena blogger sendiri identik dengan tulisan.

Alhamdulillah, aku sendiri juga udah pernah mendapatkan kerjasama seperti itu, ya meskipun belum jadi blogger kece, tapi paling tidak blog saya memang sudah memenuhi standart untuk bisa diajak kerjasama. #hore

Seperti yang udah disebutkan, kebanyakan bentuk kerjasama dengan blogger itu adalah Job Review.

Job Review


Selain Job Review, ada satu lagi yang sering didapatkan blogger, dan ini hampir-hampir mirip dengan Job Review, yaitu Content Placement.

Job Review sama Content Placement ini bisa dikatakan kembar tapi beda.

Di sini aku jelasinnya dari sudut pandang ku sebagai blogger yang pernah dapat kerjasama seperti ini ya, jadi kalau ada salah-salah maksud mohon dikoreksi.

Job Review...

Menurut ku, Job Review itu bentuk kerjasama blog post/sponsored post dimana blogger diminta untuk menulis yang sesuai dengan produk yang direview. Gampangnya blogger disuruh mempromosikan suatu produk di blognya melalui tulisan.

Misalnya blogger dapat Job Review dari Brand XYZ. Ya udah berarti nanti blogger bikin artikel yang isinya tentang XYZ. Konsep tulisan bisa disesuaikan dengan gaya bahasa masing-masing dan bisa dikolaborasikan dengan kehidupan blogger sehari-hari. Sehingga blog post berbayar ini tidak memunculkan kesan promosi banget.

Yang seperti ini biasanya brand milih blogger yang memiliki audience yang banyak dan spesifik. Tergantung dari target marketingnya. Apakah mencari Awareness atau Engagement.

Tenang, aku nulis itu berdasarkan artikel di CampaignIndonesia.com ini (http://campaignindonesia.com/insight/pertaruhan-brand-memilih-blog-sebagai-sarana-marketing/).

Campaign Indonesia


Jadi, di blog post Job Review ini harus ada penyebutan brand dan menjelaskan produk tersebut. Intinya gitu.

Content Placement...

Aku nggak tau ini bener apa nggak penyebutannya, cuma aku nyebutnya gitu aja, biar gampang. Content Placement ini sama dengan Job Review yakni kerjasama sponsored post juga. Tapi, artikel bisa dibuat oleh blogger atau kadang sudah disediakan oleh pihak advertiser. Yang sering sih Content Placement ini artikelnya sudah disediakan oleh advertiser/digital agency.

Blogger tugasnya cuma ngepublish aja di blognya. Kalau mau diedit juga boleh.

Nah, bedanya lagi, konsep artikel Content Placement ini tidak berisikan informasi detail dari produk yang diiklankan. Di Content Placement pihak advertiser hanya menginginkan sebuah backlink saja. Sehingga tujuan dari advertiser adalah untuk kebutuhan SEO saja.

Di blog post hanya ada satu atau dua text anchor yang mengarah ke sebuah landing page klien.

Misalnya artikelnya tentang "Cara Memilih Sepatu Untuk Anak Muda", nanti text anchor "sepatu murah" atau lainnya yang diinginkan. Jadi, butuhnya advertiser hanya itu. Backlink!

Nah, karena butuhnya cuma backlink, blog yang dicari pun biasanya juga yang harus memiliki kriteria yang tinggi, seperti Domain Authority, Page Authority, Pagerank, Alexa Rank, dan lain-lain.

Sayangnya untuk Content Placement ini pihak advertiser memberikan fee yang kecil di banding Job Review, dan sayangnya blogger mau-mau saja. :D

Ya, semoga dengan ini temen-temen bisa meminta rate yang lebih tinggi lagi.

Follow This Blog!